Saling Gertak AS-Iran Trump Ancam Selesaikan Pekerjaan Jika Kesepakatan Damai Gagal

Saling Gertak AS-Iran Trump Ancam Selesaikan Pekerjaan Jika Kesepakatan Damai Gagal

Ketegangan AS-Iran memuncak. Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan militer jika Teheran menolak draf kesepakatan damai Timur Tengah.(AFP)

PEMERINTAH Iran menyatakan kembalinya perang terbuka sekecil mungkin terjadi, namun militer mereka menegaskan tetap “siap mengintai”. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan ancaman keras untuk “menyelesaikan pekerjaan” melalui serangan militer jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai.

Sinyal-sinyal yang saling bertolak belakang ini mempertegas rapuhnya proses negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Konflik ini telah mengguncang pasar energi global dan melumpuhkan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

“Iran sangat berniat, mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini mereka belum mencapainya. Kami tidak puas dengan hal itu, tetapi kami akan puas,” ujar Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih. “Pilihannya adalah itu, atau kami terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

Trump juga memberikan peringatan keras kepada Oman, sekutu AS yang bertindak sebagai mediator, terkait usulan pengaturan jangka pendek yang mengizinkan Iran dan Oman mengendalikan Selat Hormuz. “Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang. Itu adalah perairan internasional dan Oman akan bersikap sama seperti yang lain atau kami harus meledakkan mereka. Mereka memahami hal itu, mereka akan baik-baik saja,” tegas Trump.

Sementara itu, media Iran melaporkan adanya tiga ledakan keras di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Beberapa jam sebelumnya, pejabat Garda Revolusi Iran, Mohammad Akbarzadeh, menyatakan kemungkinan terjadinya “war is low because of the enemy’s weakness” (perang kecil kemungkinan terjadi karena kelemahan musuh). Namun, ia memperingatkan bahwa militer mereka tetap “lying in wait with full magazines” (siap mengintai dengan amunisi penuh) jika diserang.

Optimisme sempat muncul ketika televisi negara Iran melaporkan Washington berkomitmen dalam draf kerangka kerja untuk mencabut blokade laut dan menarik pasukannya dari Teluk. Namun, Gedung Putih langsung membantah keras laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa total.”

Konflik Meluas ke Libanon

Di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran, situasi di Libanon justru kian membara. Israel meluncurkan serangan besar-besaran dan menetapkan wilayah luas di Libanon Selatan sebagai zona tempur baru serta mendesak warga untuk mengungsi. Langkah ini kian mengoyak kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 17 April lalu.

Pihak Hizbullah menyatakan para pejuangnya telah terlibat bentrokan dengan pasukan Israel dalam jarak dekat di kota strategis Libanon Selatan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bersumpah untuk menghancurkan Hizbullah, sementara Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Kolonel Eyal Zamir, menegaskan Israel tengah “mengintensifkan operasi kami” terhadap kelompok tersebut. Di sisi lain, Iran bersikeras  perjanjian damai apa pun yang disepakati dengan AS juga harus berlaku untuk Libanon. (AFP/Z-2)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *