Kasus 115 Pelanggaran Manchester City Arsenal Desak Kepastian Hukum

Kasus 115 Pelanggaran Manchester City Arsenal Desak Kepastian Hukum

Para pemain Manchester City melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang tim lawan.(AFP/Adrian DENNIS)

CHIEF Executive Arsenal, Richard Garlick, menyatakan bahwa seluruh elemen di Liga Primer Inggris menginginkan kejelasan dan resolusi cepat terkait kasus dugaan pelanggaran aturan finansial yang menjerat Manchester City. Kasus yang mencakup lebih dari 100 dakwaan tersebut hingga kini masih menggantung tanpa keputusan final.

Hingga saat ini, komisi independen belum menerbitkan putusan meski sidang disiplin telah berakhir lebih dari satu setengah tahun lalu. Secara keseluruhan, proses hukum ini telah berjalan selama tiga setengah tahun sejak City pertama kali didakwa. Di sisi lain, pihak Manchester City secara konsisten membantah seluruh tuduhan tersebut.

Desakan dari Rival Terdekat

Arsenal, yang menjadi runner-up di bawah City dalam dua musim terakhir (2023 dan 2024), menjadi salah satu pihak yang paling vokal. Garlick menekankan bahwa ketidakpastian ini berdampak pada liga secara keseluruhan.

“Ini sudah berlangsung cukup lama. Semua orang—baik liga maupun tim-tim di dalamnya—menginginkan kejelasan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya,” ujar Garlick kepada BBC Sport.

Meski demikian, ia mengakui tidak memiliki kendali atas proses tersebut dan berharap solusi segera ditemukan.

Komentar Garlick muncul menjelang dimulainya musim baru, menyusul pernyataan CEO Liga Primer, Richard Masters. Masters mengakui bahwa proses ini memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan karena kompleksitas kasusnya.

“Aturan kami sangat jelas, kami harus mengikuti proses dan membiarkannya mencapai kesimpulan alami,” kata Masters.

Daftar Dakwaan dan Dampak Finansial

Manchester City menghadapi serangkaian dakwaan berat yang mencakup periode panjang, antara lain:

  • Dugaan kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat, termasuk rincian pembayaran pemain dan manajer (musim 2009-10 hingga 2017-18).
  • Dugaan ketidakpatuhan terhadap aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA (2013-14 hingga 2017-18).
  • Dugaan pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Liga Primer (2015-16 hingga 2017-18).
  • Dakwaan gagal bekerja sama dalam investigasi liga antara Desember 2018 hingga Februari 2023.

Selain aspek kompetisi, beban finansial dari sengketa hukum ini mulai memicu kekhawatiran. Liga Primer dilaporkan menghabiskan dana sebesar £45 juta (sekitar Rp915 miliar) untuk biaya hukum selama musim 2023-24 saja guna menangani perselisihan regulasi keuangan.

Potensi Gugatan Ganti Rugi

Klub-klub besar seperti Arsenal, Liverpool, Manchester United, dan Tottenham dikabarkan telah melayangkan pemberitahuan hukum pada tahun 2024. Mereka mencadangkan hak untuk menuntut kompensasi jika City terbukti bersalah. Estimasi kerugian yang dialami klub-klub rival tersebut diprediksi bisa mencapai lebih dari £100 juta (sekitar Rp2 triliun).

Langkah ini diperkuat oleh preseden kasus Everton yang diperintahkan membayar kompensasi sebesar £35 juta kepada Burnley akibat dampak pelanggaran aturan finansial. Dengan tensi yang terus meningkat, publik sepak bola kini menanti apakah komisi independen mampu memberikan keputusan sebelum musim kompetisi berjalan terlalu jauh. (bbc/Z-1)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *