HAKIM Federal AS, Alvin Hellerstein, menunjukkan sinyal simpati terhadap argumen hukum yang diajukan mantan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, dan istrinya, Cilia Flores. Pasangan ini meminta izin untuk menggunakan dana pemerintah Venezuela guna membiayai pembelaan hukum mereka dalam kasus narkoterorisme yang sedang berlangsung di New York.
Dalam persidangan yang digelar Kamis waktu setempat, pengacara Maduro meminta hakim untuk membatalkan tuntutan karena pemerintah AS memblokir akses dana tersebut akibat sanksi ekonomi. Meski Hakim Hellerstein menegaskan tidak akan membatalkan kasus ini, ia menggarisbawahi bahwa “hak atas pembelaan adalah hal yang utama.”
Kontradiksi Dana dan Sanksi
Jaksa penuntut berargumen Maduro telah “menjarah” kekayaan Venezuela dan tidak sepatutnya menggunakan uang negara untuk membayar pengacara pribadi. Namun, kuasa hukum Maduro, Barry Pollack, berpendapat kompleksitas kasus internasional ini akan sangat membebani jika harus ditangani oleh pembela umum (public defender).
Hakim Hellerstein tampak mempertimbangkan argumen tersebut. Ia mempertanyakan logika jaksa yang tetap memberlakukan sanksi ketat meski peta politik telah berubah pasca penangkapan Maduro pada 3 Januari lalu. “Kita sedang menjalin hubungan dengan Venezuela,” ujar hakim, merujuk pada pemulihan hubungan diplomatik di bawah kepemimpinan Delcy Rodríguez.
Suasana Kontras di Ruang Sidang
Mengenakan seragam penjara khaki hijau, Maduro dan Flores duduk tenang mendengarkan argumen melalui penyuara telinga (headphones). Suasana ini sangat kontras dengan penampilan perdana mereka, di mana Maduro sempat berpidato berapi-api mengecam penangkapannya sebagai aksi penculikan.
Saat ini, pasangan tersebut ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn tanpa jaminan. Maduro menghadapi serangkaian dakwaan berat, mulai dari konspirasi narkoterorisme, impor kokain, hingga kepemilikan senjata mesin.
Reaksi Warga Venezuela
Di Caracas, masyarakat mengikuti perkembangan ini dengan perasaan campur aduk. Ana Patricia, 72, seorang pensiunan pengacara, menyatakan harapannya agar keadilan ditegakkan. “Dia adalah orang yang memiliki segalanya tetapi kehilangan itu karena ketamakan dan ego yang besar. Saya berharap dia menerima hukuman seumur hidup. Dia harus membayar kejahatannya,” ujarnya kepada BBC.
Sebaliknya, Agustina Parra, 67, seorang pensiunan perawat, masih meyakini tidak bersalahnya sang mantan presiden. “Presiden saya, Maduro, akan dibebaskan. Terlepas dari kekurangannya, dia bukan presiden yang buruk. Dia tahu dia tidak bersalah dan akan membuktikannya,” tuturnya.
Hingga kini, jadwal persidangan belum ditentukan. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan di Washington bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk mengajukan tuntutan tambahan, namun menjamin bahwa Maduro akan mendapatkan “persidangan yang adil.” (BBC/Z-2)

