Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan, dunia usaha semakin dituntut tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Kesadaran bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial mendorong banyak perusahaan mulai menata ulang cara mereka beroperasi, termasuk dalam mengelola limbah dan menjalankan program pemberdayaan masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian dari langkah yang dijalankan PT Brinks Solutions Indonesia. Memanfaatkan momentum peringatan 167 tahun berdirinya The Brink’s Company, perusahaan memperkuat berbagai inisiatif keberlanjutan yang berfokus pada pengelolaan limbah, pelestarian lingkungan, serta peningkatan keterlibatan sosial di berbagai daerah operasional.
Sebagai informasi, aktivitas Brink’s Cash Operations (BCO) di Indonesia dijalankan melalui PT Brinks Solutions Indonesia yang merupakan bagian dari bisnis G4S Indonesia setelah diakuisisi oleh The Brink’s Company.
Salah satu langkah yang dikedepankan adalah penerapan prinsip reuse, reduce, dan recycle dalam kegiatan operasional perusahaan. Program tersebut kini telah diterapkan di kantor pusat dan 16 cabang perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Presiden Direktur PT Brinks Solutions Indonesia, David Maksud, menegaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian penting dari arah pengembangan perusahaan. Menurutnya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak semata-mata diukur melalui pencapaian bisnis, tetapi juga melalui kontribusi yang diberikan kepada lingkungan dan masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, perusahaan menggandeng Armada Kemasan dalam mengelola berbagai limbah yang dihasilkan dari aktivitas operasional. Melalui proses pemilahan dan pengolahan, material yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai guna.
Direktur Human Resources PT Brinks Solutions Indonesia, Yustianto, menjelaskan bahwa limbah yang terkumpul diproses menjadi beragam produk seperti tempat sampah, kotak tisu, tas, hingga lembaran plastik yang dapat digunakan kembali dalam proses produksi.
“Seluruh limbah kami dipisahkan dan dikirim untuk didaur ulang menjadi berbagai produk yang memiliki manfaat baru,” katanya.
Bagi perusahaan, pengelolaan limbah bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari upaya membangun budaya kerja yang lebih peduli terhadap keberlanjutan. Langkah ini juga menjadi cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas operasional sehari-hari.
Komitmen tersebut diperluas melalui pengembangan program bank sampah yang saat ini telah berjalan di wilayah Depok. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan secara lebih berkelanjutan. Ke depan, program serupa direncanakan akan diperluas ke berbagai cabang perusahaan lainnya.
Di sisi lain, Account Manager Armada Kemasan, Kalian Novianti, menjelaskan bahwa setiap jenis limbah memiliki karakteristik dan metode pengolahan yang berbeda. Plastik, kertas, logam, maupun limbah organik akan diproses melalui jalur daur ulang yang sesuai sehingga dapat dimanfaatkan kembali secara optimal.
“Plastik misalnya, dipilah kembali berdasarkan jenisnya sebelum diolah menjadi papan daur ulang yang kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk baru,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pengelolaan sampah, program tersebut juga menghadirkan manfaat sosial. Sebagian proses pengolahan melibatkan masyarakat sekitar sehingga membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya praktik daur ulang.
“Harapannya adalah mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya daur ulang,” ujar Kalian.
Selain fokus pada isu lingkungan, perusahaan juga terus mengembangkan berbagai program tanggung jawab sosial. Kegiatan yang telah dilakukan mencakup pelepasan tukik di Kepulauan Seribu, penanaman mangrove, bantuan kepada panti asuhan, hingga berbagai program sosial di sejumlah daerah.
Dalam waktu dekat, perhatian perusahaan juga akan diarahkan pada sektor pendidikan. Melalui program berbasis komunitas, perusahaan berencana melibatkan para karyawan sebagai relawan pengajar sekaligus mendukung kebutuhan pendidikan masyarakat di wilayah sasaran.
“Karyawan akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi melalui kegiatan mengajar dan mendukung kebutuhan pendidikan di sana. Apa yang kami terima dari masyarakat, ingin kami kembalikan kepada masyarakat,” kata Yustianto.
Bagi perusahaan yang telah berusia lebih dari satu setengah abad, keberlanjutan dipandang sebagai bagian dari kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari era penggunaan kuda dan kereta hingga memasuki masa layanan keuangan berbasis teknologi modern, Brink’s melihat bahwa inovasi harus selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Saat ini layanan perusahaan juga telah berkembang melampaui pengelolaan ATM, mencakup berbagai solusi perbankan modern yang mendukung kebutuhan sektor korporasi maupun ritel.
Namun di tengah transformasi tersebut, keberlanjutan tetap menjadi salah satu fondasi utama perusahaan. David menilai kemampuan bertahan selama 167 tahun tidak hanya ditentukan oleh inovasi bisnis, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
“Brink’s telah bertahan selama 167 tahun. Tugas kami sekarang adalah memastikan perusahaan ini terus berkembang selama 167 tahun ke depan,” ujarnya.
Melalui penguatan program daur ulang, pengembangan bank sampah, serta berbagai inisiatif sosial dan pendidikan, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan dan memperkuat hubungan dengan masyarakat. Pendekatan inilah yang semakin banyak dipandang sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan perusahaan di masa depan. (E-3)
