DESA Adat Sade yang terletak di Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, bukan sekadar destinasi wisata. Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat, Sade adalah simbol keteguhan dalam menjaga identitas budaya Suku Sasak. Di tengah arus modernisasi yang pesat, desa ini tetap mempertahankan arsitektur, adat istiadat, dan pola hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Peristiwa kebakaran yang dilaporkan terjadi pada 22 Agustus 2026 menjadi pengingat betapa berharganya warisan budaya ini. Untuk memahami nilai dari setiap jengkal tanah di Sade, kita perlu menengok jauh ke belakang, memahami akar sejarah dan filosofi yang membentuk desa ini menjadi salah satu desa adat paling ikonik di Indonesia.
Asal-usul dan Akar Sejarah Desa Sade
Secara etimologi, nama “Sade” berasal dari kata dalam bahasa Sasak yang berarti “kesadaran” atau “nyata”. Nama ini mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya yang senantiasa sadar akan asal-usul dan jati diri mereka sebagai bagian dari alam dan pencipta. Desa ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Pejanggik, salah satu kerajaan besar di Lombok pada masa lampau.
Masyarakat Sade merupakan bagian dari Suku Sasak asli. Mereka telah mendiami wilayah perbukitan di Lombok Tengah ini selama lebih dari 15 generasi. Keberadaan mereka di lokasi yang agak tinggi dan kering secara geografis membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan mandiri. Sejarah mencatat bahwa Sade tetap bertahan meskipun pusat-pusat kekuasaan di sekitarnya mengalami pasang surut, mulai dari pengaruh kerajaan lokal hingga masa kolonialisme.
Arsitektur Bale Tani: Filosofi di Balik Bangunan
Salah satu aspek sejarah yang paling menonjol dari Desa Sade adalah arsitektur bangunannya yang tidak berubah selama berabad-abad. Rumah tradisional di sini disebut Bale Tani. Struktur bangunan ini memiliki ciri khas unik yang sarat akan makna filosofis:
- Atap Alang-alang: Melambangkan kedekatan dengan alam dan memberikan kesejukan di dalam ruangan.
- Dinding Bambu (Bedek): Mencerminkan kesederhanaan dan keterbukaan antar sesama warga.
- Lantai Tanah dan Kotoran Kerbau: Salah satu tradisi paling unik di Sade adalah membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau yang dicampur air. Secara historis, ini dilakukan untuk memperkuat lantai tanah agar tidak mudah retak, mengusir serangga, dan dipercaya memiliki nilai magis untuk menolak bala.
- Pintu Rendah: Setiap tamu yang masuk harus menunduk, yang melambangkan rasa hormat kepada pemilik rumah dan Sang Pencipta.
Struktur Sosial dan Tradisi yang Bertahan
Sejarah Desa Sade juga tidak lepas dari sistem sosialnya yang tertutup namun harmonis. Masyarakat Sade mempraktikkan sistem perkawinan yang unik, yakni perkawinan antar sepupu atau dalam satu rumpun keluarga besar. Hal ini dilakukan secara historis untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan memastikan harta warisan serta tanah adat tetap berada di lingkungan keluarga Sade.
Selain itu, tradisi menenun (nyesek) bagi kaum perempuan adalah kewajiban sejarah. Seorang wanita di Sade belum dianggap dewasa dan belum boleh menikah jika belum mahir menenun kain songket khas Sasak. Tradisi ini memastikan bahwa keterampilan ekonomi dan seni budaya terus mengalir dari ibu ke anak perempuan tanpa terputus oleh zaman.
Tantangan Pelestarian di Masa Depan
Kejadian kebakaran pada 22 Agustus 2026 merupakan alarm bagi upaya konservasi desa adat. Mengingat material bangunan yang didominasi oleh bahan mudah terbakar seperti jerami dan bambu, risiko bencana selalu membayangi. Namun, sejarah membuktikan bahwa kekuatan masyarakat Sade terletak pada semangat gotong royong (besiru). Setiap kali ada kerusakan, warga akan bahu-membahu membangun kembali sesuai dengan pakem adat yang asli, memastikan bahwa sejarah mereka tidak akan hilang ditelan api.
Pelestarian Desa Adat
- Restorasi Otentik: Memastikan pembangunan kembali menggunakan material tradisional (bambu, alang-alang).
- Sistem Mitigasi Kebakaran: Pengadaan alat pemadam api ringan (APAR) yang disamarkan agar tidak merusak estetika desa.
- Dokumentasi Digital: Pemetaan struktur desa secara 3D untuk referensi pembangunan jika terjadi bencana.
- Edukasi Generasi Muda: Penguatan narasi sejarah kepada pemuda desa agar tetap bangga pada identitas Sasak.
